filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; hdrForward: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 2;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 32;
Manado, 17 Februari 2026 – Fajarjejakkasus.com
Hari Raya Imlek merupakan momen sakral yang dirayakan setahun sekali oleh warga Tionghoa. Selain ibadah dan tradisi keluarga, perayaan ini juga identik dengan kegiatan open house, yakni menerima tamu sebagai bentuk sukacita, kebersamaan, serta harapan baik di tahun yang baru.

Namun, suasana perayaan Imlek 2026 di Kota Manado kali ini justru memunculkan sorotan warga. Salah satu warga Tionghoa yang berdomisili di Manado, berinisial Ci Eleng, yang diketahui merupakan salah satu owner minuman beralkohol merek Kesegaran Sari, diduga melakukan tindakan yang dianggap tidak lazim dalam tradisi open house.
Diduga Terapkan Sistem “Persetujuan Owner” untuk Masuk
Berdasarkan informasi yang dihimpun awak media dari sejumlah warga yang hadir di lokasi, open house yang digelar Ci Eleng disebut-sebut menerapkan sistem “pilih-pilih tamu”.
Beberapa tamu yang datang mengaku tidak dapat masuk begitu saja, melainkan harus menunggu persetujuan dari Ci Eleng terlebih dahulu.
“Setiap tamu yang datang harus ada persetujuan dari owner Kesegaran Sari, Ci Eleng, baru bisa masuk,” ungkap salah satu warga yang hadir.
Pernyataan Sekuriti Jadi Sorotan
Yang lebih mengejutkan, salah satu petugas keamanan (sekuriti) di lokasi disebut menyampaikan bahwa dirinya hanya menjalankan perintah langsung dari Ci Eleng.
“Saya hanya menunggu perintah dari Ci Eleng. Kalau Ci bilang masuk, baru saya kasih masuk,” kata sekuriti, sebagaimana ditirukan warga.
Situasi tersebut membuat sejumlah tamu merasa tidak nyaman, karena ada tamu yang menunggu di luar, sementara beberapa tamu lain justru bisa langsung masuk tanpa hambatan.
Ci Eleng Bantah: Mengaku Hanya Tamu
Tidak lama setelah kejadian itu, Ci Eleng disebut sempat memanggil salah satu warga dan menyampaikan bahwa dirinya bukan pemilik rumah.
“Ini bukan rumah saya dan saya juga tamu,” kata Ci Eleng, menurut keterangan warga.
Namun, pernyataan itu justru memunculkan pertanyaan baru di kalangan warga yang hadir. Mereka menilai, bila benar Ci Eleng hanya tamu, maka mengapa sekuriti menyatakan bahwa dirinya hanya menunggu perintah dari Ci Eleng untuk menentukan siapa yang boleh masuk.
“Kami ini tidak bodoh. Kalau Ci Eleng hanya tamu, kenapa sekuriti bilang menunggu perintah dari Ci Eleng?” ujar salah satu warga dengan nada kecewa.

Sejumlah warga yang ditemui berharap tradisi Imlek tidak dijadikan ajang pembatasan sosial yang memunculkan kesan diskriminatif.
Mereka menilai open house semestinya menjadi wadah silaturahmi dan mempererat persaudaraan, bukan malah menimbulkan perasaan tersisih bagi tamu tertentu.
Warga juga meminta agar perayaan Imlek tetap dijaga sesuai nilai luhur budaya Tionghoa: hormat, kebersamaan, dan saling menghargai.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Ci Eleng belum memberikan klarifikasi resmi kepada media terkait tudingan sistem “pilih-pilih tamu” dalam open house Imlek 2026 tersebut.
